Ciputat – Gerbang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali dibuka lebar untuk menyambut mahasiswa baru dalam gelaran Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025. Perhelatan akbar ini tidak hanya berisi pengenalan unit kegiatan mahasiswa, tetapi juga diwarnai sosialisasi dua program krusial: Gerakan Kampus Hijau dan Pencegahan Kekerasan Seksual. Peristiwa PBAK UIN Jakarta 2025 menjadi penanda bahwa kampus ini mencoba melangkah lebih jauh dari sekadar orientasi mahasiswa biasa, menuju fondasi kampus yang lebih sadar lingkungan dan aman.
Langkah ini patut diapresiasi. Di tengah krisis iklim yang kian nyata, komitmen universitas untuk mengedukasi mahasiswa baru tentang program “Green Campus” merupakan sinyal positif. Demikian pula dengan sosialisasi pencegahan kekerasan seksual, yang menjadi isu mendesak di berbagai kampus di Indonesia. Namun, apakah seremoni sosialisasi ini akan benar-benar efektif dan berlanjut menjadi aksi nyata?
Di Balik Wajah UIN Jakarta PBAK 2025: Janji Kampus Hijau dan Aman
Program “Kampus Hijau” sering kali menjadi jargon manis yang hanya berhenti di spanduk dan media sosial. Padahal, implementasi riilnya jauh lebih kompleks. Hal ini menuntut tidak hanya kesadaran personal, tetapi juga kebijakan universitas yang konsisten dalam pengelolaan sampah, konservasi energi, dan penggunaan transportasi publik. PBAK UIN Jakarta 2025 ini harus menjadi awal dari sebuah gerakan berkelanjutan, bukan sekadar agenda tahunan yang selesai begitu saja. Mahasiswa harus didorong untuk mengawasi dan terlibat langsung dalam setiap kebijakan hijau kampus, memastikan janji-janji tersebut benar-benar terwujud.
Sementara itu, sosialisasi pencegahan kekerasan seksual adalah langkah vital yang sudah seharusnya dilakukan. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa kekerasan seksual di lingkungan akademik masih menjadi gunung es yang tak terlihat. Kehadiran kebijakan yang tegas dan mekanisme pelaporan yang berpihak pada korban sangat diperlukan. Pertanyaannya, apakah PBAK UIN Jakarta 2025 ini akan diikuti dengan pembentukan tim khusus yang berintegritas, jaminan perlindungan bagi korban, dan hukuman yang setimpal bagi pelaku? Sosialisasi adalah awal, tetapi fondasi yang kokoh dalam menanggapi kasus harus menjadi prioritas utama.
Tantangan Setelah UIN Jakarta PBAK 2025: Dari Sosialisasi Menuju Aksi Nyata
Setelah acara PBAK UIN Jakarta 2025 selesai, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Kedua isu ini membutuhkan kerja kolektif dan komitmen jangka panjang. Komunitas mahasiswa, sebagai agen perubahan, memiliki peran sentral dalam memastikan janji-janji progresif ini tidak menguap begitu saja.
Mahasiswa baru harus didorong untuk tidak hanya menjadi subjek sosialisasi, tetapi juga menjadi subjek gerakan. Mereka harus dibekali keberanian untuk bersuara, mengkritik, dan berpartisipasi aktif dalam mengawal kebijakan kampus. Di sinilah peran organisasi mahasiswa dan komunitas non-akademik menjadi vital, sebagai wadah untuk menyalurkan energi dan gagasan progresif. Langkah awal yang baik dari PBAK UIN Jakarta 2025 ini harus diiringi dengan konsistensi, keberanian, dan transparansi dari semua pihak. Kampus yang benar-benar progresif tidak hanya peduli pada isu-isu besar, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata yang membebaskan dan melindungi seluruh warganya.




